Minggu, 24 April 2011

Globalisasi Matematika


Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah. Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari pikiran yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi patokan bagi bangsa- bangsa di seluruh dunia. Perkembangan teknologi begitu cepat sehingga segala informasi dengan berbagai bentuk dan kepentingan dapat tersebar  luas ke seluruh dunia. Oleh karena itu globalisasi tidak dapat kita hindari kehadirannya. Globalisasi pada hakikatnya ternyata telah membawa nuansa budaya dan nilai yang mempengaruhi selera dan gaya hidup masyarakat. Ada beberapa dampak positif dan dampak negatif dari globalisasi, yaitu:
A.       Dampak Positif
1.         Perubahan Tata Nilai dan Sikap
Adanya globalisasi dalam budaya menyebabkan pergeseran nilai dan sikap masyarakat yang semua irasional menjadi rasional.
2.         Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi
Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi masyarakat menjadi lebih mudah dalam beraktivitas dan mendorong untuk berpikir lebih maju.
3.         Tingkat Kehidupan yang lebih Baik
Dibukanya industri yang memproduksi alat-alat komunikasi dan transportasi yang canggih merupakan salah satu usaha mengurangi penggangguran dan meningkatkan taraf hidup masyarakat.

B.       Dampak Negatif

1.         Pola Hidup Konsumtif
Perkembangan industri yang pesat membuat penyediaan barang kebutuhan masyarakat melimpah. Dengan begitu masyarakat mudah tertarik untuk mengonsumsi barang dengan banyak pilihan yang ada.



2.         Sikap Individualistik
Masyarakat merasa dimudahkan dengan teknologi maju membuat mereka merasa tidak lagi membutuhkan orang lain dalam beraktivitasnya. Kadang mereka lupa bahwa mereka adalah makhluk sosial.
3.         Gaya Hidup Kebarat-baratan
Tidak semua budaya Barat baik dan cocok diterapkan di Indonesia. Budaya negatif yang mulai menggeser budaya asli adalah anak tidak lagi hormat kepada orang tua, kehidupan bebas remaja, dan lain-lain.
4.         Kesenjangan Sosial
Apabila dalam suatu komunitas masyarakat hanya ada beberapa individu yang dapat mengikuti arus modernisasi dan globalisasi maka akan memperdalam jurang pemisah antara individu dengan individu lain yang stagnan. Hal ini menimbulkan kesenjangan sosial.
Perkembangan teknologi begitu cepat sehingga segala informasi dengan berbagai bentuk dan kepentingan dapat tersebar  luas ke seluruh dunia. Oleh karena itu globalisasi tidak dapat kita hindari kehadirannya. Globalisasi pada hakikatnya ternyata telah membawa nuansa budaya dan nilai yang mempengaruhi selera dan gaya hidup masyarakat. Sebagai contoh globalisasi yang ada di Museum Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta adalah sebagai berikut:
1.        Mesin Tulis-Menulis
Sejak jaman penjajahan, Indonesia menggunakan mesin ketik manual untuk tulis-menulis. Hingga akhir tahun 1990-an, sebagian lembaga pendidikan masih mengandalkan alat ini. Kemudian dari mesin ketik manual, berkembang menggunakan mesin ketik elektrik. Mesin ketik elektrik sama dengan mesin ketik manual, hanya menggunakan tenaga listrik untuk memperingan hentakan huruf. Dari mesin ketik elektrik kemudian berkembang lagi menjadi mesin ketik elektronik. Mesin ketik elektronik dapat dilengkapi dengan penyimpanan data untuk memperkecil taraf kesalahan ketik. Mesin ketik elektronik banyak digunakan pada tahun 1980-an. Kita ketahui bahwa mesin ketik sudah jarang digunakan saat ini. Orang lebih banyak menggunakan komputer sebagai alat tulis-menulis. Komputer mulai banyak digunakan pada awal tahun 1990-an. Komputer memberikan kemudahan dalam berbagai kegiatan pembelajaran, bahkan di jenjang Taman Kanak-Kanak (TK) sudah diajarkan cara menggunakan komputer. Jadi perkembangan alat tulis-menulis dimulai dari menggunakan mesin keik manual, kemudian menggunakan mesin ketik elektrik, dari mesin elektrik berkembang menjadi mesin ketik elektronik dan kemudian menggunakan komputer.

2.        Mesin Pengganda
Mesin pengganda yang digunakan pertama kali adalah Mesin Sheet Roneo 250. Mesin ini digunakan sebagai pengganda dokumen soal-soal ujian dan buku panduan di sekolah, digunakan terutama sampai tahun 1970-an. Kemudian berkembang menjadi Mesin Sheet Roneo 500 yang berfungsi sama seperti Mesin Sheet Roneo 250.

3.        Alat Menghitung
Pada masa penjajahan, lidi dan sempoa merupakan alat bantu hitung utama pada sekolah-sekolah dasar. Lidi dan sempoa digunakan sampai tahun 1970-an walaupun saat ini alat sempoa banyak kita temui digunakan oleh sebagian anak-anak Taman Kanak-Kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD). Dari lidi dan sempoa kemudian saat ini berkembang menggunakan kalkulator dan terdapat bermacam-macam jenis kalkulator yang dapat kita pilih sesuai kebutuhan kita.

4.        Alat Menulis
Alat menulis pertama kali yang digunakan adalah kertas merang. Kertas merang digunakan untuk buku tulis dan percetakan dari masa penjajahan Belanda sampai dengan tahun 1970-an.  Kertas buram dan HVS banyak digunakan setelah tahun 1970-an. Kemudian menggunakan daun rontal mentah, setengah jadi dan sudah ditulisi. Ini merupakan salah satu alat tulis pada masa Hindu-Budha dan Islam. Sedangkan pada masa penjajahan Belanda sampai tahun 1970-an menggunakan grip. Grip adalah semacam pena yang digunakan untuk menulis pada sabak. Saat ini kita sudah menggunakan bolpoin, spidol, pensil, tinta dan buku sebagai alat tulis.Di Indonesia alat tulis ini baru banyak digunakan setelah tahun 1970-an, terutama setelah ditemukan kertas.

5.        Alat Proyeksi
Pada jaman dahulu menngunakan Epyscope memperbesar atau memproyeksikan tampilan buku/script. Alat ini dioperasikan dengan tegangan listik 110V. Kemudian saat ini di sekolah-sekolah, kita menggunakan microscope untuk melihat benda keci seperti kuman dan jaringan-jaringan pada daun atau batang. Banyak digunakan oleh siswa ataupun mahasiswa jurusan IPA.
Arus globalisasi begitu cepat merasuk ke dalam masyarakat terutama di kalangan muda. Pengaruh globalisasi terhadap anak muda juga begitu kuat. Pengaruh globalisasi tersebut telah membuat banyak anak muda kita kehilangan kepribadian diri sebagai bangsa Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan gejala- gejala yang muncul dalam kehidupan sehari- hari anak muda sekarang. Misalnya saja dari cara berpakaian banyak remaja- remaja kita yang berdandan seperti selebritis yang cenderung ke budaya Barat. Mereka menggunakan pakaian yang minim bahan yang memperlihatkan bagian tubuh yang seharusnya tidak kelihatan. Pad hal cara berpakaian tersebut jelas tidak sesuai dengan kebudayaan kita. Tak ketinggalan gaya rambut mereka dicat beraneka warna. Pendek kata orang lebih suka jika menjadi orang lain dengan cara menutupi identitasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar